Ujian hidup akan selalu mengiringi perjalanan hidup setiap insan. Kadang manusia harus berjibaku dengan pahit getirnya sebuah kehidupan. Namun terkadang pula di iming-iming atau di elus-elus dengan sebuah kenikmatan. Akan tetapi keduanya hanyalah ujian dari Allohutabaroka wata ala.
Allohsubhanahu wata 'ala berfirman:
"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai coba'an (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu di kembalikan. "(Al-ambiya[21]:35).
Saudaraku, Pujian adalah salah satu bentuk ujian. Ujian yang seperti ini bisa jadi menyenangkan bahakan sebagian dari kita menganggapnya sebagai suatu kenikmatan.
Terkadang pula pujian justru menjadi jebakan yang dapat menjadi sumber malapetaka.
Tak heran, bahwa bagi mereka yang dapat memahami efek samping pujian tak terlalu bergairah ketika mendapat pujian. Ia malah menghindar dari hal-hal yang menjadi sebab ia di puji.
Ia tau meluluskan diri dari ujian pujian tidaklah mudah, sebaliknya jika sampai gagal maka resiko yang di tanggungnya tidaklah ringan. Keikhlasan yang merupakan kunci kesuksesan dunia akhirat akan menjadi porak-poranda.
Ketika seseorang yang tak mampu menghalau sifat haus pujian dari orang, lambat laun seluruh amalannya ingin di ketahui orang. atau minimal semua kebaikannya itu di sebut-sebut oleh orang. Na 'ujubillah.
Situasi yang seperti ini dengan sendirinya akan mendatangkan penyakit hatidi dalam jiwa, contohnya: Ujub, riya', sum'ah dan yan selainnya.
Pujian seringkali membuat kita tertipu. Seolah di dalam diri terdapat kelabihan tanpa ada rasa kekurangan. Sebaliknya orang lain justru di lihatnya bergelimang dengan kekurangan tanpa ada sedikitpun kelebihan.
Ketika ujub menguasai diri seseorang, maka niat, keikhlasan dan motivasi dalam berbuat yang jadi korban. Sifat uzubnya sedikit demi sedikit akan mencukur keikhlasan. Inilah hakikat kerugian.
Banyak amal tap tidak di nilai oleh Alloh subhanahu wata ala. Karna hampa dari keikhlasan. Al-Imam Adzahabi, "Demi Alloh tidak beruntung orang yang ujub pada dirinya dan merasa suci.
Sumber keburukan.
Sifat ujub bukan hanya datang pada hal-hal yang berkaitan dengan dunia, akan tetapi sifat ujub juga akan datang dalam urusan 'Ibadah. Tak jarang ketekunan kita dalam 'ibadah membuat kita merasa lebih baik dan lebih hebat 'ibadahnya dari orang lain.
Ibnu Mubarok berkata, "Aku tidak mengetahui seseuatu yang sangat buruk pada orang-orang yang mendirikan sholat dari sifat ujub. "
Dalam tingkat tertentu sifat ujub bisa menjerumuskan kita pada sifat takabur dan kesombongan sebagaimana yang di miliki Iblis 😈 laknatullohi 'alayh. sehingga mereka akan melakukan apa saja sesuai dengan kehendak mereka, tanpa memikirkan bahwa kehidupan ini ada aturan mainnya yang berlandaskan Al-Qur'an dan AsSunnah.
Inilah thoga dan kesombongan yang merasa dirinya lebih hebat ketimbang orang lain, ketahuilah bahwa fir'aun laknatullohi alayh di laknat oleh Allohu tabaroka wata 'ala di karenakan sifat sombong yang di miliki fir'aun laknatullohi 'alayh.
Allohu tabaroka wata 'ala berfirman, :
"Ketahuilah! Sesunguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. "(Al-alaq [96]:6-7).
Dari sini jelaslah bahwa sifat ujub adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya. Tak hanya merusak keikhlasan, ujub juga menjadi tembok raksasa yang akan selalu menghambat masuknya nilai-nilai kebaikan kedalam hati kita.
Wajar jika para 'Ulama selalu mengingatkan kepada kita mengenai penyakit yang berbahaya ini (ujub/sombong). Wahab bin Munabbih berkata, " hati-hati kalian terhadap tiga hal, yakni:
1. Nafsu yang di ikuti.
2. Berteman dengan orang yang buruk akhlaqnya.
3. Rasa ujub yang ada pada diri seseorang.
Banyak di antara mereka yang tidak menyambut ajaran Rosulullohi shollallohu 'alayhi wa sallam bukan karna ketidak tahuan nereka mengenai ajaran Rosulullohi shollallohu 'alayhi wa sallam, bukan! hal ini dikarenakan sifat sombong yang ada pada diri mereka, yakni merasa lebih tau ketimbang Nabinya sendiri. Naujubillahimin zalik.
Orang Yahudi protes kepada Nabinya ketika Allohu Azza wajallah menunjuk Thalut sebagai Raja. Kenapa? Jawabannya karna mereka merasa lebih berhak dan pantas menjadi Raja di sebabkan kelebihan harta yang mereka miliki.
Allohutabaroka wata 'ala berfirman,
"Nabi mereka mengatakan kepada mereka: Sesungguhnya Allohutabaroka wata 'ala telah mengangkat Thalut menjadi rajamu. 'Mereka menjawab: 'bagaimana Thalut memerintah kepada kami, padahal kami lebih berhak mengandalkan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak di beri kekaya'an yang cukup banyak. "(Al-baqoroh ([2] 247)
Langkah-Langkah dan Teknik ketika Mendapat Pujian.
ketika seorang laki-laki datang kepada Ibnu Umar RodiyaAllohuta ala anu, "Angkau adalah sebaik-baik manusia dan putra dari manusia terbaik. "Mendengar pujian ini Ibnu Umar sedikitpun tak menampakkan raut wajah kegembira'an. ia justru menanggapi pujian ini dengan berkata, "Saya bukanlah manusia terbaik dan bukan pula putra dari manusia terbaik, akan tetapi saya hanyalah bagian dari hamba Alloh, saya mengharap kasih sayang Alloh dan takut 😨 terhadap adzab-Nya."Terkadang pujian sulit di hindari. Meski kita enggan di puji, tetap saja telinga terpaksa mendengar kalimat sanjungan. Dalam dialog diatas, Ibnu 'Umar Rodiyallohu ta 'ala anhu kembali menghadiahkan kepada kita palajaran sekaligus Ibroh yang sangat berharga, yakni "Teknik Ketika Mendapat Pujian. "
Ternyata pujian tidak pas jika di ladeni dengan suka cita dan kegembira'an. Karna rasa gembira bisa menjadi embrio munculnya sifat ujub. Ujub dan haus di puji adalah dua sifat yang selalu beriringan. Ketika seseorang yang di dalam dirinya ingin di puji atau haus akan pujian, maka jelas sifat ujub akan ikut serta bercokol dalam dirinya. Para 'Ulama terdahulu mempunyai beragam cara untuk mengatasi penyakit yang satu ini.
Teknik Ketika Mendapat Pujian dari Al-Imam Asy-Syafi'i rohimahullohu ta 'ala,
"Jika engkau takut 😨 pada amalanmu diikuti rasa ujub, maka ingat keridhoan siapa yang kamu cari dan nikmat apa yang kamu inginkan, dan dari hukuman mana engkau menghindar. Siapa yang merenungi itu, maka menjadi kecil lah amalannya di matanya. "
Teknik Ketika Mendapat Pujian dari Ubaidulloh Bin Abi Ja'far,
"Jika kalian berada di dalam satu majelis, dan apabila berbicara bisa membuatmu ujub, maka hendaklah ia diam. Dan jika diamnya membuatnya ujub, maka hendaklah ia berbicara".
Pujian semaksimal mungkin di hindari. Namun jika tidak sanggup, maka harus di layani tapi dengan hati-hati, maksudnya, jangan sampai pujian itu melupakan kita dari mengingat Allohutabaroka wata 'ala.
Melupakan sang Pemberi Nikmat akan membuat sifat ujub semakin menjadi-jadi, dan tentu akan membuat kita semakin lupa dan hilangnya rasa penghamba'an kita kepada-Nya.
Disa'at rasa ujub hendak mencuat bersegeralah untuk ingat kepada-Nya. Bahwa Dia_lah Allohutabaroka wata 'ala yang Maha segala-galanya. Perlu di ingat bahwa, Segala kelebihan yang ada pada kita hakikatnya adalah milik-Nya.
Dengan kesadaran yang seperti ini, apapun pujian yang kita terima tentu tidak akan memudhorotkan kita, Sebab sedahsyat apapun pujian yang menerpa, kita selalu sadar bahwa kita adalah makhluk Allohutabaroka wata 'ala yang tidak punya apa-apa, yang tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali dari-Nya.
Washollallohu alannbiyyina Muhammad.

0 komentar:
Posting Komentar
Assalamualaykum
Berilah komentar dengan menjaga adab